Basoeki abdullah biography death

Basuki Abdullah

Fransiskus Xaverius Basuki Abdullah (ejaan lama: Basoeki Abdullah; 25 Januari &#;&#;&#;5 November )[1][2] adalah salah seorang pelukis Indonesia.

Basoeki abdullah biography wife

After the war he became known internationally, winning an art contest on the occasion of the accession in the Netherlands of Queen Juliana. Abdullah was beaten to death by three assailants during a break-in at his Jakarta home. This article about an Indonesian painter is a stub. You can help Wikipedia by expanding it. Contents move to sidebar hide.

Ia dikenal sebagai pelukis aliran realis dan naturalis. Ia pernah diangkat oleh Presiden Soekarno sebagai pelukis Istana Merdeka, Jakarta,[3] dan karya-karyanya menghiasi istana-istana negara dan kepresidenan Indonesia, di samping menjadi barang koleksi di penjuru dunia.

Biografi

[sunting | sunting sumber]

Masa muda

[sunting | sunting sumber]

Bakat melukisnya terwarisi dari ayahnya, Abdullah Suriosubroto, yang juga seorang pelukis dan penari.

Sedangkan kakeknya adalah seorang tokoh Pergerakan Kebangkitan Nasional Indonesia pada awal tahun an yaitu Doktor Wahidin Sudirohusodo. Sejak umur 4 tahun Basuki Abdullah mulai gemar melukis beberapa tokoh terkenal diantaranya Mahatma Gandhi, Rabindranath Tagore, Yesus Kristus dan Krishnamurti.[1]

Pendidikan formal Basuki Abdullah diperoleh di HIS Katolik dan MULO Katolik di Solo.

Basoeki abdullah biography wikipedia The gifted portraitist Basoeki Abdullah was born in , the son of artist Abdullah Suriosubroto With the assistance of his father, he was able to study in The Hague, Netherlands, where he spent three years at the Academy of Art. Near the end of his stay he won a painting competition held in honor of the coronation of Queen Juliana. After returning home, he was active in the Poetra Movement and also an art teacher. His pupils included Kusnadi, a painter and critic, and Zaini, an Impressionist painter.

Berkat bantuan Pastur Koch SJ, Basuki Abdullah pada tahun memperoleh beasiswa untuk belajar di PTAkademik Seni Rupa (Academie Voor Beeldende Kunsten) di Den Haag, Belanda, dan menyelesaikan studinya dalam waktu 3 tahun dengan meraih penghargaan Sertifikat Royal International of Art (RIA). Setelah dari Den Haag, Belanda, Basoeki Abdullah juga mengikuti studi banding di sejumlah sekolah seni rupa di Paris dan Roma.[1]

Basuki Abdullah awalnya merupakan pemeluk Islam, namun kemudian berpindah menjadi pemeluk agama Katolik dan memilih nama Fransiskus Xaverius sebagai nama baptisnya.[1]

Aktivitas

[sunting | sunting sumber]

Pada masa Pemerintahan Jepang, Basuki Abdullah bergabung dalam Gerakan Poetra atau Pusat Tenaga Rakyat yang dibentuk pada tanggal 19 Maret Di dalam Gerakan Poetra ini Basuki Abdullah mendapat tugas mengajar seni lukis.

Murid-muridnya antara lain Kusnadi (pelukis dan kritikus seni rupa Indonesia) dan Zaini (pelukis impresionisme). Selain organisasi Poetra, Basuki Abdullah juga aktif dalam Keimin Bunka Sidhosjo (sebuah Pusat Kebudayaan milik pemerintah Jepang) bersama-sama Affandi, S. Sudjojono, Otto Djaya dan Basuki Resobowo.[4]

Pada masa revolusi Bosoeki Abdullah tidak berada di tanah air yang sampai sekarang belum jelas apa yang melatarbelakangi hal tersebut.

Jelasnya pada tanggal 6 September bertempat di Belanda Amsterdam sewaktu penobatan Ratu Yuliana di mana diadakan sayembara melukis, Basuki Abdullah berhasil mengalahkan 87 pelukis Eropa dan berhasil keluar sebagai pemenang.[4]

Sejak itu pula dunia mulai mengenal Basuki Abdullah, putera Indonesia yang mengharumkan nama Indonesia.

Selama di negeri Belanda Basuki Abdullah sering kali berkeliling Eropa dan berkesempatan pula memperdalam seni lukis dengan menjelajahi Italia dan Prancis di mana banyak bermukim para pelukis dengan reputasi dunia.

Basuki Abdullah terkenal sebagai seorang pelukis potret, terutama melukis wanita-wanita cantik, termasuk yang menampilkan keindahan tubuhnya, dan juga potret tokoh - tokoh terkemuka.

Biografi basoeki abdullah Basuki Abdullah adalah salah satu maestro lukis Indonesia yang dikenal sebagai pelukis aliran realisme dan naturalisme. Lahir di masa kolonial namun meninggal di era kemerdekaan membuatnya menjadi seorang native post colonial survivor. Mungkin konteks tersebutlah yang membuat Basuki Abdullah tak kunjung berhenti dalam mengeksplorasi berbagai tema dan teknik lukis. Ia terpengaruh oleh banyak teknik dan aliran lukis di masa hidupnya. Hal tersebut didapatkan dari sekolah seninya di Belanda, hingga studi bandingnya ke negara-negara eropa lainnya.

Berbagai citra keindahan yang romantis itu diungkapkan dengan teknis realis yang kuat. Selain sebagai pelukis potret yang ulung, dia pun melukis pemandangan alam, fauna, flora, tema-tema perjuangan, pembangunan dan sebagainya.[5]

Basuki Abdullah banyak mengadakan pameran tunggal baik di dalam negeri maupun di luar negeri, antara lain karyanya pernah dipamerkan di Bangkok (Thailand), Malaysia, Jepang, Belanda, Inggris, Portugal dan negara-negara lain.

Lebih kurang 22 negara yang memiliki karya lukisan Basuki Abdullah. Hampir sebagian hidupnya dihabiskan di luar negeri diantaranya beberapa tahun menetap di Thailand dan diangkat sebagai pelukis Istana Merdeka dan sejak tahun Basuki Abdullah menetap di Jakarta.

Basoeki abdullah biography Basuki Abdullah merupakan pelukis beraliran realis dan naturalis, yang pernah memenangi sayembara melukis Ratu Juliana pada , mengalahkan 87 pelukis Eropa. Berkat keahliannya dalam bidang seni lukis, Basuki Abdullah mendapatkan panggilan untuk melukis raja, kepala negara, dan mengadakan pameran lukisanya di mancanegara, seperti di Singapura, Italia, Portugal, Inggris, dan beberapa negara lainnya. Peran Basuki Abdullah dalam kancah internasional itu membuatnya disebut sebagai duta seni lukis Indonesia. Ia merupakan putra dari pelukis pertama Indonesia abad ke, Abdullah Suriosubroto, sekaligus cucu Wahidin Sudirohusodo, tokoh kebangkitan nasional. Basuki kecil telah melukis beberapa tokoh ternama, seperti Mahatma Gandhi, Rabindranath Tagore, Krishnamutri, dan beberapa lainnya.

Kematian

[sunting | sunting sumber]

Pada tanggal 5 November , Basuki Abdullah ditemukan tewas di kediamannya di bilangan Cilandak, Jakarta Selatan. Ia dibunuh oleh perampok yang menyantroni rumahnya. Perampokan tersebut didalangi oleh Wahyudi, mantan tukang kebunnya.[2]

Karya

[sunting | sunting sumber]

Artikel utama: Daftar lukisan Basuki Abdullah

Referensi

[sunting | sunting sumber]

Pranala luar

[sunting | sunting sumber]